Kamis, 11 September 2014

HIKAYAT HARIMAU DAN SERIGALA

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - HIKAYAT HARIMAU DAN SERIGALADi sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan. Luka yang di derita serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari perkampungan penduduk. Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu, di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit, sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan. Sang harimau paham, bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok gua. Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus dari semua pelajaran yang diberikan olehnya. Pada awalnya banyak yang takut, namun setelah ....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Selasa, 09 September 2014

WAKTU TERUS BERJALAN

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - WAKTU TERUS BERJALANToni dan Dedi telah lama menganggur. Bekerja tidak, bisnis pun tidak. Pekerjaan mereka sehari-hari hanya mengobrol di pos ronda sambil main catur. Saat mereka sedang asik main catur, tiba-tiba ada seorang perempuan cantik lewat. Toni langsung melihat perempuan itu dengan penuh kekaguman, “Wow, cantik bener…. ” sambil terus melihatnya. “Eh, jangan melihat terus, dosa tuch…” kata Dedi. “Astaghfirullah”, kata Toni sambil langsung memalingkan wajah ke papan catur. “Ton, kamu harus cepat menikah tuch… Usia kamu kan sebentar lagi sudah kepala tiga.” kata Dedi. “Iya yah… biar mata saya tidak jelalatan lagi. Banyak dosa nich…” katanya sambil tersenyum. “Ahamdulilah, kamu sadar. Takut dosa.” kata Dedi sambil tersenyum juga. “Kamu sendiri?”, kata Toni balik menyerang. “Saya sendiri kan tidak jelalatan kayak kamu.” kata Dedi menimpali dengan cepat. “Tapi tetap saja harus segera menikah, itu kan saran Rasulullah saw bagi pemuda seusia kita. Masa harus puasa terus, sementara usia semakin hari semakin tua.” Kondisi menjadi hening… mereka kembali melihat papan catur. Permainan menjadi hampa dan tidak menarik lagi. Selain karena mereka main catur setiap hari, pikiran mereka melayang kemana-mana. Mereke mulai terusik dengan nasib mereka sendiri. “Iya yah, kita harus segera menikah, itu kan setengah agama. Tapi, siapa yang mau kepada kita yang pengangguran ini.” kata Toni memecah keheningan. Tapi Dedi tidak memberikan respon. Mat....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 07 September 2014

DUA EKOR TIKUS

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - DUA EKOR TIKUSDi dalam got yang gelap hiduplah dua ekor tikus yang saling bersaudara. Suatu saat kedua ekor tikus ini melihat sebuah roti keju dari lubang sebuah selokan. Tikus-tikus ini ingin sekali memakannya tetapi sayang lubang selokan itu tertutup oleh jeruji besi yang sangat kuat. Kedua tikus ini berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan jeruji besi itu dengan gigi-gigi mereka yang tajam tetapi gigi mereka mulai rusak karena jeruji besi itu terlalu keras bagi gigi mereka yang kecil. Kedua ekor tikus ini kecapaian, dan butuh istirahat. Tikus pertama berkata dalam hatinya: "Aku tidak akan menyerah, setelah ini aku akan menghancurkan jeruji besi itu dengan sekuat tenagaku. Pantang menyerah adalah pangkal dari keberhasilan !" Tikus kedua termenung dan berpikir : " Aku akan kehilangan semua gigiku jika aku nekat menggigiti jeruji itu. Ada baiknya kalau aku mengambil jalan lain saja untuk mendapatkan roti keju itu." Setelah beristirahat sejenak, tikus pertama mulai menggigiti lagi jeruji besi itu dengan sekuat tenaga sedangkan tikus kedua mundur diri dari usahanya. Melihat tikus kedua mundur diri tikus pertama mulai mengejek saudaranya itu katanya : "Kamu itu sifatnya mudah menyerah dan tidak ulet bekerja, mana mungkin kamu bias berhasil dalam kehidupanmu?" Tikus kedua tidak mempedulikan ejekan saudaranya, dia mundur mencari jalan lain ke tempat roti keju itu. Akhirnya tikus kedua berhasil memperoleh jalan ke tempat roti keju itu sedangkan tikus pertama kelelahan dan hancur giginya karena menggigiti jeruji besi itu. Teman-teman cerita ini merupakan cerita yang agak kontradiktif tetapi yang ingin disampaikan dari cerita ini adalah hendaklah kita memakai kejelian dan kecerdasan kita untuk memecahkan masalah kita dan bukan hanya mengandalkan keuletan dan kerajinan kita untuk bekerja. Pantang menyerah cukup baik, tetapi jika tanpa kecerdasan semuanya sia-sia, maka pakailah kecerdasan kita. ....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 04 September 2014

Suku Korowai di Papua & 4 Suku yang Wajib Turis Temui di Dunia

1. Korowai, Indonesia
Suku Korowai mendiami wilayah Kaibar di Kabupaten Mappi, Papua. Mereka tinggal di dalam hutan, alam liar Papua yang penuh hewan buas. Oleh karena itulah, rumah mereka dibuat di pohon setinggi 15-30 meter!

Untuk membuat rumah super tinggi itu, Suku Korowai mengambil kayu, rotan, akar, dan rating pohon dari rawa dan hutan di sekitar mereka. Suku Korowai hanya turun dari rumah untuk mencari makanan seperti buah dan daging.

Namun, bukan berarti banyak pohon yang ditebang untuk membuat rumah ini. Suku Korowai punya kedekatan tersendiri dengan lingkungan, tak heran mereka sangat menjaga alam sekitar.
2. Piraha, Brasil
Suku Piraha yang mendiami bantaran Sungai Maici di Amazon, Brasil, punya keunikan dalam hal bahasa. Alih-alih menggunakan kata-kata, Suku Piraha menggunakan siulan sebagai tanda berburu makanan.

Mereka membentuk sebuah kelompok tanpa adanya hierarki. Berbeda dengan suku-suku lainnya, Piraha juga tak punya pemimpin kelompok.
3. San, Namibia
Masih inget film komedi 'The Gods Must Be Crazy?' Jika ya, Anda pasti familiar dengan Suku San alias African Bushmen. Suku pemburu ini tinggal di Gurun Kalahari, serta beberapa wilayah di Namibia dan Bostwana.

San disebut-sebut merupakan suku asli tertua di Afrika, konon sudah membentuk komunitas sejak 100 ribu tahun yang lalu. Mereka terbagi menjadi beberapa grup, masing-masing beranggotakan 25 orang, yang bertemu satu sama lain dalam rangka pernikahan atau pertemuan sosial.
4. Hamar, Ethiophia
Suku Hamar di Ethiophia tersohor akan tradisi lompat sapi dan para wanitanya yang tangguh. Mereka adalah komunitas semi-nomadik, hidup dengan menggembala kambing dan hewan ternak.

Ada tradisi unik sekaligus menyakitkan sebelum suku ini melangsungkan pernikahan. Pria yang akan menikah meloncati sapi sebanyak 4 kali. Bila berhasil, pria Hamar boleh menikahi perempuan yang ia sukai.

Cara lain, saudara perempuan calon mempelai pria dengan sukarela dicambuk oleh Maza (sekelompok orang yang telah melewati inisasi tersebut). Tak sedikit wanita yang melakukan hal ini, dan mereka bangga memperlihatkan luka-luka tersebut.
. Surma, Ethiophia
Masih di Ethiophia, salah satu suku unik yang wajib Anda lihat adalah Surma. Mereka terkenal karena tradisi logam bundar yang disematkan pada bagian bawah bibir.

Meski sudah terpengaruh budaya barat, Suku Surma masih menjaga dan mempraktekkan tradisi ini sampai sekarang. Kini, ada sekitar 100 orang Suku Surma yang hidup dengan berburu dan beternak.

Senin, 01 September 2014

september ceria whit libra

Libra:
The period of contraction for Libras is lighted up this month by several energies that transits the area... a sensation of clarity, joy and even playfulness awakens this period, even if the need toward maturity and self discipline remains. 








TELINGA UNTUK KAMU

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - TELINGA UNTUK KAMU"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang kearah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga. Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak sambil berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh." Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Iapun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan,"Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya. Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mend....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 31 Agustus 2014

Yogyakarta city


Kota Yogyakarta
ꦪꦺꦴꦒꦾ​ꦏꦂꦠ
Jawa Nuvola single chevron right.svg Daerah Istimewa Yogyakarta
Gedung Bank Indonesia di Yogyakarta
Gedung Bank Indonesia di Yogyakarta
Lambang Kota Yogyakarta
Seal
Semboyan: Mangayu Hyuning Bawana
ꦩꦔꦪꦸ​ꦲꦾꦸꦤꦶꦁ​ꦧꦮꦤ
Cita-cita untuk menyempurnakan masyarakat
Slogan: Berhati Nyaman (Bersih, Sehat, Asri dan Nyaman)(umum)
Never Ending Asia (pariwisata)
Lokasi Kota Yogyakarta di Pulau Jawa
Lokasi Kota Yogyakarta di Pulau Jawa
Kota Yogyakarta is located in Indonesia
Kota Yogyakarta
Lokasi Kota Yogyakarta di Pulau Jawa
Koordinat: 7°48′5″LU 110°21′52″BT
Negara Indonesia
Hari jadi7 Oktober 1756
Pemerintahan
 • Wali kotaDrs. H. Haryadi Suyuti
Populasi (2011)[1]
 • Total430.735 jiwa
Zona waktuWIB (UTC+7)
Kode telepon+62 274
Kecamatan14
Flora resmiKelapa gading
(Cocos nuciferal vv. gading)
Fauna resmiBurung tekukur
(Streptoplia chinensis tigrina)
Situs webwww.jogjakota.go.id




Yogyakarta city
ꦪꦺꦴꦒꦾ ꦏꦂꦠ
Nuvola single chevron right.svg Java Yogyakarta
Bank Indonesia building in Yogyakarta
Bank Indonesia building in Yogyakarta
Symbol of the city of Yogyakarta
Seal
Motto: Mangayu Hyuning Bawana
ꦩꦔꦪꦸ ꦲꦾꦸꦤꦶꦁ ꦧꦮꦤ
Ideals of the community to enhance
Slogan: Be Comfortable (Clean, Healthy, and Comfortable Asri) (common)
Never Ending Asia (tourism)
Location City of Yogyakarta in Java
Location City of Yogyakarta in Java
Yogyakarta city is located in Indonesia

Yogyakarta city
Location City of Yogyakarta in Java
Coordinates: 7 ° 48'5 "N 110 ° 21'52" E
Indonesian state
Anniversary October 7, 1756
government
  • Mayor Drs. H. Haryadi Suyuti
Population (2011) [1]
  • Total 430 735 souls
All times are BST (UTC +7)
+62 274 telephone code
Sub-District 14
Official flora Kelapa Gading
(Cocos nuciferal vv. Ivory)
Official cuckoo bird fauna
(Streptoplia Tigrina chinensis)
Website www.jogjakota.go.id

etymology
Yogyakarta name drawn from two words, namely Ayogya or '' 'Ayodhya' '' which means "peace" (or without war, a "no", refers yogya Yodya or yudha, which means "war"), and the Karta, which means "good". Ayodhya is a historic town in India where the epic Ramayana happened. Tread the palace of Yogyakarta itself according to the Chronicle (Chronicle Giyanti example) and leluri (oral history) has the form of a palace called Dalem Gerjiwati; then renamed by Sunan Pakubuwana II as tradional Ayogya [2].


History
Hindu Mataram (10th century AD) [edit | edit source]
Although missing from the historical record since the transfer of the seat of government Medang Kingdom in the 10th century to the east, in the southern region of the valley of Mount Merapi since the 15th century and still inhabited by a lot of people said to be part of a region known as Pengging. In chronicles his journey, Bujangga Manik, a prince of the Kingdom of Sunda hermit never passes through this region, but does not mention the name "Yogya" or alike.

Islamic Mataram (1575 - 1620)
Forerunner of the city of Yogyakarta is the area of ​​Kota Gede, now one of the districts in the city of Yogyakarta. The first ruler of the Islamic Mataram palace, Panembahan Senapati (Sutawijaya), established in a scene of which is part of the forest Mentaok (base Mentaok). The oldest palace complex still remaining as part of a stone fort, cemeteries, and mosques. Having had moved two times (in the palace and the palace Pleret Kerta, both located in the district of Bantul), the seat of government of the Sultanate of Mataram switch to Kartasura.

After Giyanti Agreement (1745 - 1945)
The city's history entered a new phase following the signing of the Agreement between the Sunan Pakubuwono Giyanti III, Prince Mangkubumi (which crowned the Sultan Hamengkubuwono I, and VOC on February 13, 1755 This treaty divided into two Mataram Mataram East (called Surakarta) and Mataram West (which later called Ngayogyakarta)

Yogyakarta as the new political administration center was officially established since Prince Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) ended the revolt he led, got half of the Mataram territory remaining, and allowed to set up the palace in a place known now. This palace graduation date, October 7, 1756, is now used as the anniversary of the city of Yogyakarta.

Expansion of the city of Yogyakarta running quickly. Township-village outside the walls of the palace named after the unity of the palace forces, such as Patangpuluhan, Bugisan, Mantrijeron, and so on. In addition, the region is also built for the non-indigenous backgrounds, such as the Dutch and Kotabaru to Chinatown for the Chinese. This grouping pattern is common in the 19th century until the 20th century, before the end of the occupation. Many of them now become the name of the city districts in the region.

There are old sites are in ruins, especially those established in the early days but then abandoned because of damaged by the massive earthquake that struck in 1812, as Warungboto tetirahan site, which was founded by Sultan Hamengkubuwana II and the site Taman Sari in the walls of the palace were established Sultan Hamengkubuwana I. Beringharjo been known as a place of trade transactions since the palace stands, but a new permanent building was founded in the early 20th century (1925).

The second half of the 19th century is the modernization of the city. The first station was built and finished Lempuyangan 1872 Yogyakarta Station (Tugu) began operations on May 2, 1887 in Yogyakarta in the early 20th century is a city that is quite advanced, with the power grid, roads for horse-drawn carriages and cars long enough, as well as various hotels as well as the shopping center (Malioboro Street and Beringharjo) has been available. Local football associations, PSIM, established on 5 September 1929 with the name of the United Football Sports Mataram.

Revolution period (1945 - 1950)
Yogyakarta city also plays politics Indonesian history, on January 4, 1946, the Indonesian government decided to move the capital city of Jakarta to Yogyakarta after the Dutch with the Allies launched an offensive to Indonesia. The city also bears witness to the Dutch Military Aggression II on December 19, 1948, which in turn can be occupied by the Dutch, and the General Offensive March 1, 1949 were successfully mneguasai Yogyakarta for 6 hours.

Heritage and Regional Identity
Spear Kyai Wijoyo Mukti
Giving a king Heritage Kraton Sultan Hamengkubuwono X. This spear was made in 1921 during the reign of Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Weapons are often used these soldiers have a length of 3 meters. Spear with prestige wos wutah wengkon with dhapur kudhuping this gambier, landeannya 2.5 meter wooden walikun, the type of wood that is commonly used for the shaft and has been tested and keliatannya violence.

Previous spear is stored in the ward before Pracimosono and submitted in advance dijamasi by KRT. Hastono Negoro, in the palace Yudonegaran. Mukti Wijoyo new naming done bebarapa days before the handover ceremony to the city of Yogyakarta, on the anniversary of the 53rd Government of Yogyakarta city on June 7, 2000 ceremony was conducted in the City Hall courtyard and heritage of this special escorted by soldiers Kraton "Soldiers bregodo Mantrijero" .

Kyai spear symbolizes Wijoyo Mukti Wijoyo Wijayanti conditions. That is, a true victory in the future, where all people can feel the emotional and physical pleasure because the achievement level of welfare that is really uneven.

Geography

Phone important city of Yogyakarta (click image to enlarge)
Yogyakarta city is located in the valleys of three rivers, the River Winongo, Code River (which divides the city into two and culture), and the Gajah Wong River. It is situated at a distance of 600 KM from Jakarta, 116 KM from Hyderabad, and 65 KM from Surakarta, the crossing point of Bandung - Semarang - Surabaya - Pacitan. The city has an altitude of about 112 m above sea level.

Although located in a valley, the city is rarely experienced flooding due to drainage system neat built by the colonial government, coupled with the addition of water channels jealous undertaken by the municipal government of Yogyakarta.

limit Administration
Yogyakarta city has been integrated with a number of surrounding areas, so that the administrative boundaries have not so prominent. To maintain sustainable development of this region, formed a joint secretariat Kartamantul (Yogyakarta, Sleman and Bantul) which deals with all matters relating to the agglomeration of Yogyakarta region and buffer areas (Depok, Mlati, Limestone, Pity, Sewon, and Banguntapan).

As for the administrative boundaries of Yogyakarta are:

North: District of Mlati and Depok subdistrict, Sleman Regency
East: District of Depok, Sleman regency and Banguntapan subdistrict, Bantul
South: District of Banguntapan, District of Sewon, and Kasihan Bantul
West: District of Limestone, Kasihan Sleman Regency and Bantul
Subdivisions [edit | edit source]
Yogyakarta city consists of 14 districts [3]. Here is a list of districts in Yogyakarta:

Mantrijeron
Kraton
Mergangsan
umbulharjo
Kota Gede
Gondokusuman
Danurejan
Pakualaman
Gondomanan
Ngampilan
Wirobrajan
Gedongtengen
Jetis
Tegalrejo
demographics
The population of the city of Yogyakarta, based on the 2010 Population Census [4]., Amounted to 388 088 people, with the proportion of men and women were almost equal.

Islam is the majority religion professed people of Yogyakarta, the number of Christians and Catholics are relatively significant. Like most of Islam mostly in the inland cities of Java, the majority still maintain a fairly strong Javanese tradition.

Yogyakarta is also the birthplace of one of Indonesia's largest Islamic organization, Muhammadiyah, founded by KH Ahmad Dahlan in 1912 in Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta. Until now, the Central Board of Muhammadiyah remains headquartered in Yogyakarta.

Yogyakarta is known as a city of students, because nearly 20% of the population is a productive student and there are 137 colleges. The city is colored dynamics and students who come from various regions in Indonesia. The college is owned by the government of Gadjah Mada University, Yogyakarta State University, Indonesia Art Institute of Yogyakarta, Islamic State University Sunan Kalidjaga and Indonesian Art Institute in Yogyakarta.

transportation
Yogyakarta city is very strategic, because it is located on the main lines, namely the Southern Cross Road that connects Yogyakarta, Bandung, Surakarta, Surabaya, and in the southern cities of Java, and Yogyakarta lines - Semarang, which connects Yogyakarta, Magelang, Semarang, and towns across central Java. Therefore, transport in Yogyakarta sufficient to facilitate mobility between these towns. The city is easily accessible by land and air transport, whereas because the location is quite far from the sea (27-30 KM) led to the lack of water transportation in the city.

in the city
The city bus
Yogyakarta city is one of the cities in Indonesia are not familiar with the term transportation (public transportation with a fleet of minibuses). Ground transportation in Yogyakarta is served by a number of city buses. Yogyakarta city has several bus lines operated by cooperatives, respectively (among others Aspada, Kobutri, Kopata, Sleman Youth Cooperative, and Puskopkar) that serve specific routes [5]:

Line 2
Line 3
Line 4
Line 5
lane 6
Line 7
lane 8
Line 9
Line 10
Strip 11
Line 12
Strip 15
Strip 16
Strip 17
Strip 19
Trans Jogja
Since March 2008, a new bus transport system, called Trans Jogja serve as mass transportation present a fast, secure and convenient. Trans Jogja is a 3/4 buses that serve various areas in the City, Sleman and Bantul part. Until today (November 2010), there are 8 (eight) trajectory which serve a variety of vital facilities in Yogyakarta, namely [6]:

Route 1A and Route 1B, serve sections of protocols and economic and governmental center of the region, such as the Station Yogyakarta, Malioboro, Yogyakarta Presidential Palace.
Route 2A and Route 2B, serve an office area and Sukonandi Kotabaru.
Route Route 3A and 3B, serving the southern region, including the area of ​​Kota Gede history.
Route 4A and 4B Route, serving the area of education, such as UII, APMD, UIN Sunan Kalidjaga, and Lempuyangan.
Trans Jogja is in great demand in addition to being safe and comfortable, which is currently applied rates are also affordable, which Rp3,000, - for a one-way, with two ticket system: all roads and subscribe. For subscription ticket, subject to a discount of 10% for general and 30% for students.

taxi
Taxis are easily found on various roads in Yogyakarta, especially in the segment of the protocol and the economic center and tourist area. There are various taxi companies that serve transportation, from sedans to minibuses form.

Out of town
train
Transportation to Yogyakarta by train from Jakarta, Bandung, Surabaya or Malang, departure and arrival of trains (KA) and business executive class serviced Yogyakarta station, also known as Monument Station while the economy class train served in Lempuyangan. There is also a fast commuter train that connects with Surakarta Kutoarjo Lempuyangan past the station, the train named Prameks.

Bus
AKAP buses available to and from all cities in Java, arriving and departing from Terminal Passenger Yogyakarta, located in Imogiri Road East, Giwangan, located at the edge of the Outer Ring Road South of Yogyakarta, on the boundary between the city of Yogyakarta with other Bantul.Terminal District smaller serving as Terminal Jombor including Magelang and Semarang route and Terminal Chess Leaning toward Ground.

aircraft
Air transportation from and to Yogyakarta International Airport is served by Adisutjipto located on the edge of the Road Adisucipto KM 9, Maguwoharjo village, subdistrict, Depok, Sleman regency. The airport serves domestic aviators to big cities in Java (Jakarta, Bandung, Surabaya), Sumatra (Batam), Bali, Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin, and Balikpapan), and Sulawesi (Makassar).

In addition, the airport also serves daily flights to Singapore and Kuala Lumpur with Malaysia Airlines and Singapore Airlines.

Education
elementary school
Elementary School Serayu
Elementary School Jetis
Elementary School Demangan
SD Muhammadiyah Kauman
SD Muhammadiyah Sagan
SD Christian Holy Kalam
Junior high school
SMP Negeri 1 Yogyakarta
SMP Negeri 2 Yogyakarta
SMP Negeri 3 Yogyakarta
SMP 4 Yogyakarta
SMP Negeri 5 Yogyakarta
SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta
SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta
SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta
SMP BOPKRI 1 Yogyakarta
High school
SMA Negeri 1 Yogyakarta
SMA Negeri 2 Yogyakarta
SMAN 3 Yogyakarta
SMA 4 Yogyakarta
SMA Negeri 5 Yogyakarta
SMA 6 Yogyakarta
SMAN 7 Yogyakarta
SMA Negeri 8 Yogyakarta
SMA Negeri Yogyakarta 9
SMA Negeri 10 Yogyakarta
SMA Negeri 11 Yogyakarta
SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta
SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
SMA BOPKRI 2 Yogyakarta
Media [edit
television
terrestrial television
Yogyakarta city has 17 pieces of television stations (broadcast 12 national and 5 local broadcasts) such as:

Strong channel frequency signal Owner Network Name Company Name Country Status
22 512 250 MHz UHF National TVRI TVRI Televisi Republik Indonesia LPP Indonesian government Indonesian National
TVRI Yogyakarta Yogyakarta Local Government
24 530 250-MHz Trans TV Trans Media Television Transformation Indonesia PT Trans National Corp.
26 542 250-MHz MNCTV MNC PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia MNC
554,250 28-MHz Indosiar, PT Indosiar Visual Mandiri SCM EMTEK
30 566 250-MHz quiz Horizons PT Andalas Televisi VIVA VIVA
32 578 250-MHz MNC RCTI Rajawali Citra Televisi Indonesia MNC
34 590 250-MHz SCTV SCM PT Surya Citra Televisi Emtek
35 583 250-MHz CNN Indonesia / Yogyakarta CNN TV Patrol PT Rekso Binaarma Makakabayan ABS-CBN News Channel
36 602 250-MHz Global TV Global MNC PT MNC Quality Information
38 614 250-MHz AFP VIVA VIVA PT Lativi Media Works
40 626 250-MHz RBTV PT Jogja TV Compass Mutual bars Kompas Gramedia Local Media
42 638 250-MHz Metro Media Group PT Media Televisi Indonesia National Media Group
44 655 250-MHz ADiTV City TV PT Direction World Television Mahaka Local Media
46 662 250-MHz Trans7 Trans PT Duta Visual Media Nusantara Tivi Seven Trans National Corp.
48 674 250-MHz Jogja Bali TV TV / Network PT Indonesia Yogyakarta Tugu Bali Post Media Group Television Local
50 703 250-MHz TATV PT Solo TATV Eternal Light Television TA Group
56 751 250-MHz RTV Jogjakarta [7] PT Rajawali Corpora PT Metropolitan Metropolitan Televisindo National Televisindo
60 783 250-MHz TV Gogomall Yogyakarta Yogyakarta Municipality Gogomall TV PT Media Televisi Gogomall National & Local Media
Subscription television [edit | edit source]
Yogyakarta city also has several television subscription as:

Aora TV
Astro Nusantara (Non-Operating)
Big TV
Centrin TV (Non-Operating)
Groovia TV / USeeTV
Indovision / Top TV
max3
Nexmedia
OkeVision
OrangeTV / Skynindo
Telkomvision / YesTV
Topas TV
Viva +
Newspaper [edit | edit source]
Yogyakarta city has published 11 papers, among others:

Company Name Type Language Network
Newspaper National Newspaper SINDO Yogyakarta Edition SINDO SINDOMedia
(via MNC)
Indonesia
Sounds Update Edition BeritaSatu Yogyakarta Voice Media Holdings Update
Yogyakarta Republika Republika Mahaka Media Edition
Compass Compass Compass Scholastic Edition Yogyakarta
Indonesian Business Edition Business Yogyakarta Indonesia Jurnalindo Script Graphic
Indonesian Media Media Edition Yogyakarta Indonesia Media Group
Local Joglosemar Sritex Digest
Radar Jogja Java Post Group Jawa Pos
Sovereignty of the People Yogyakarta People's Sovereignty Sovereignty of the People
Kompas Kompas Gramedia Jogja Tribune
Daily Business Jogja Indonesia Jurnalindo Script Graphic
Radio [edit | edit source]
Yogyakarta city also has 34 radio stations broadcast local fruits such as:

Frequency Signal station name
774-KHz AM Radio Voice RRI Yogyakarta
1062-KHz Radio Radio Bandido Erbe
Programma-1107 KHz Radio 4 RRI
1152-KHz Radio Voice Palace Palace Medoa
1188-KHz Radio Voice Yogyakarta Child Education
1251-KHz Radio Voice of Yogyakarta Education Education
87.7-MHz FM carbolic UCB Radio Network
87.9-MHz Radio Radio Dangdut Indonesia Arma Eleven
88.7-MHz I-​​I-Radio Radio Yogyakarta
91.1-MHz Radio Programma 1 RRI
91.5-MHz Radio Best CPP RadioNet
91.6-MHz Radio Voice Culture Yogya
91.7-MHz Radio Broadcasting Amega Amega
Prima Radio 91.9-MHz PBS
92.4-MHz Radio Business Yogyakarta / Solo Radio Pas (Business Radio Jakarta)
92.7-MHz Radio Voice Mataram Buana MBS
93.5-MHz Radio Yasalma Argo Sosro
94.6-MHz Radio City Silver ZOE Broadcasting Network
95.4-MHz Radio Yasika CPP RadioNet
95.8-MHz Radio Radio Geronimo Geronimo Yogyakarta
96.2-MHz Radio Radio Ista Alagad
97.0-MHz Radio Radio Yogyakarta SINDO Trijaya SINDO Trijaya
97.4-MHz Radio Radio Sonora Sonora Yogyakarta
97.8-MHz FM Radio palace StarFamily
99.4-MHz radio Retjo RB Media Tank
100.5-MHz Radio Impact FM Impact Super Radio
101.3-MHz Radio Star Daily Yogyakarta Yogyakarta
102.1-MHz Radio Radio Geronimo Eltira
102.5-MHz Radio Programma 2 RRI
102.9-MHz Radio Programma 3 RRI
103.7-MHz Radio Radio Delta Delta
104.5-MHz Radio Network Unisi Unisi
106.1-MHz Radio Geronimo ZOE Broadcasting Network
107.2-MHz Radio Voice Indrakila?
Mayor of Yogyakarta

The following is a list of local mayor or chief who has served in the city of Yogyakarta since 1947:

No Mayor Served
1 M. Enoch May 1947 - July 1947
2 Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo July 1947 - January 1966
3 Soedjono A. Y. January 1966 - November 1975
H. Ahmad 4 November 1975 - May 1981
5 Soegiarto 1981-1986
6 Djatmiko D 1986-1991
7 R. Widagdo 1991-2001
8 Herry Zudianto 2001-2011
9 Drs. H. Haryadi Suyuti 2011-present


twin city
Gangbuk-gu, Seoul, South Korea
Commewijne District, Suriname
Baalbek, Lebanon
Hue, Vietnam
Hefei, People's Republic of China
Kyoto, Japan